Komsos Babinsa Koramil 16/Tulung Dengan Pengrajin Mie Soun

Klaten  – Mie Soun bagi warga Desa Pucang  Kecamatan Tulung Kabupaten Klaten sudah menjadi penopang hidup. memasuki desa tersebut, seluas mata memandang, tampak laki-laki dan perempuan sibuk dengan mi putih yang terlihat seperti benang.
Selaku aparat Komando kewilayahan, Babinsa Koramil 16/Tulung Sertu Triyono berkunjung kesalah satu pengrajin mie soun, Bapak Nyamadi yang terletak di Desa Pucang  Kecamatan Tulung, Minggu (22/07/2018).
Sejarah Soun di Desa Pucang dimulai semenjak 63 tahun silam oleh Bapak Nyamadi. Bahkan, untuk menghormati jasanya, ia dijuluki sebagai “Bapak Soun”.
Ia menceritakan bahwa awalnya dirinya  bekerja selama dua tahun di Desa Daleman – Klaten, dari 1948 hingga 1950. setelah menimba ilmu, ia kemudian berkeinginan mendirikan usaha sendiri.
Berbekal pengetahuan sederhana dari tempatnya bekerja, Bapak Nyamadi pun memulai pembuatan soun. Ia kemudian membuat alat-alat sederhana untuk mencetak adonan mie tersebut.
“Dulu alatnya belum seperti sekarang, tempat untuk menjemur pun masih berupa pelepah bambu (cumpring-Jawa). Sementara untuk cetakannya, menggunakan kaleng bekas yang dilubangi pada bagian bawahnya,” ujarnya, Minggu (22/07/2018).
Tak disangka, ujicoba yang dilakukan oleh Bapak Nyamadi berbuah manis. Soun buatannya dilirik pembeli. Selain itu, para warga pun lantas ikut bekerja membuat mie berwarna putih tersebut.
Kini ada sekitar 43 unit pembuatan mie soun di Desa Pucang, tempat produksi tersebut dimiliki oleh warga setempat yang mendirikan /memproduksi sendiri.
Proses produksi  mie soun di Desa Pucang pun semakin berkembang. meskipun masih menggunakan tenaga manusia, namun alat produksi semakin canggih. hal itu diungkapkan oleh seorang pengusaha soun, Munadi Menurutnya, berbagai pihak terutama akademisi telah membantu pengembangan usaha di Pucang.
“Satu di antaanya adalah pengembangan alat untuk mengaduk adonan pati dari aren. Kalau dulu masih manual, pakai tangan. Bisa dibayangkan beratnya seperti apa. Sekarang pakai bantuan hidrolis, lebih ringan. Sementara untuk pengolahan limbah, sudah ada dua instalasi pengolahannya bantuan pemerintah,” tuturnya.
Munadi memaparkan, untuk pembuatan soun dimulai dengan pengendapan sari pati aren. Setelah dicuci hingga kurang lebih delapan sampai sepuluh kali, lantas dimasak hingga menjadi bubur kemudian dicetak. 
Pencetakan sendiri menggunakan mesin pres khusus, di mana lubang hasil soun sudah ditentukan sebesar 2,5 milimeter. Dari proses tersebut, lantas dijemur hingga benar-benar kering.

Ia mengaku pada cuaca cerah, dirinya bisa memproduksi hingga empat kuintal soun. namun di musim hujan, jumlah tersebut bisa berkurang drastis. Adapun untuk harga soun, per kilogram, ia lepas ke pasaran Rp 15.500 sampai Rp16 ribu.  Pendim 0723/Klaten


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *