Klaten – Dalam rangka melestarikan adat seni dan budaya Kabupaten Klaten gelar rapat koordinasi pelaksanaan lomba Festifal Gejok Lesung tingkat Kabupaten Klaten di Aula Kantor kecamatan Cawas.
Senin ( 9/7/2018)
Tampak hadir dalam rapat koordinasi pelaksanaan Festifal Gejok lesung tingkat Kabupaten Klaten
Camat Cawas Much Nasir, Sekcam Turaji, Perwakilan Koramil 20 Cawas Serma Timbul Prawoto, Perwakilan Polsek Cawas Budi Suryanto, Kepala Desa dan Sekdes se Kecamatan Cawas.
Camat Cawas Much Nasir dalam rapat yang di gelar menyampaikan Rencana kegiatan pelaksanaan Festifal Gejok Lesung tingkat Kabupaten yang akan di ikuti 26 peserta perwakilan Kecamatan seKabupaten Klaten akan di gelar di Cawas ini, jelasnya.
Much Nasir juga menjelaskan untuk juri akan di ambil dari pakar -pakar kesenian sedangkan untuk keamanan dan ketertiban akan mengerahkan dari Polsek maupun Koramil setempat.
“Festifal Gejog lesung nanti masing-masing kecamatan se kabupaten Klaten akan mengeluarkan 1 perwakilan Peserta Gejok Lesung, untuk kecamatan Cawas bisa mengeluarkan 2 perwakilan diharapkan kreasi masing – masing kecamatan bisa dikeluarkan semaksimal mungkin,” jelasnya.
Camat Cawas juga memaparkan bahwa Gejok Lesung merupakan permainan alat musik dari Alu yang ditumbukkan ke lesung, dimainkan oleh kurang lebih 12 (duabelas) orang 5-6 orang penabuh dan peserta lainnya menyanyi (nembang) dan menari (berjoget).
Gejog Lesung adalah permainan Alu yang ditumbukkan pada Lesung. Alu adalah sabah kayu panjang untuk menumbuk padi dan Lesung adalah sebuah kayu panjang yang dibuat menyerupai perahu dan digunakan untuk tempat padi ditumbuk, untuk memisahkan padi dari tangkainya. Ditangan ibu-ibu petani di Klaten alu dan lesung ini selain untuk menumbuk pagi dapat dimainkan layaknya alat musik dan dapat menciptakan alunan musik yang indah, yang dikenal dengan Gejog Lesung.
Ada cerita yang melegenda tentang gejog lesung ini. Dipercaya oleh masyarakat bahwa Gerhana Bulan merupakan peristiwa dimana Bulan akan dimakan oleh Raksasa Kala di saat Nini Thowong sedang tertidur, sudah separo bulan berhasil dimakan raksasa kala sehingga bumi semakin gelap, oleh karena itu masyarakat memukul Lesung tersebut sehingga Nini Thowong terbangun, kemudian bulan dapat terbebas kembali.
Seiring berjalannya waktu, dimana menumbuk padi sudah digantikan oleh mesin, maka alat tumbuk padi tradisional ini sudah tidak digunakan lagi oleh masyarakat, maka alunan musik indah dari alat tradisional alu dan lesung atau dikenal Gejog Lesung sudah jarang dimainkan, dan hanya dimainkan pada saat tertentu saja misalnya upacara adat, pesta panen, menyambut tamu dan sebagainya , dikhawatirkan akan semakin menghilang, karena generasi muda kita sudah tidak mengenal. Oleh sebab itu perlu dilestarikan kembali salah salah satunya adalah dengan diadakan lomba festifal gejog lesung. Paparnya.
Sementara itu Serma Timbul Prawoto berharap kedepan bahwa gejog lesung tidak hanya dimainkan oleh kaum generasi Tua, tetapi bisa dimainkan oleh kaum muda sehingga lebih berkembang dan lebih kreatif dan untuk keamanan dari Koramil Cawas dan Polsek cawas siap di kerahkan, mungkin bisa di bantu linmas setemoat, Jelasnya.
Rencananya pelaksanaan festifal gejok lesung tingkat Kabupaten Klaten akan di gelar pada hari Sabtu tanggal, 21 Juli 2018 di lapangan barepan Cawas Kabupaten Klaten, akan dihadiri oleh Bupati Klaten, untuk tecknikel metting akan di gelar kembali di kecamatan Cawas menunggu surat undangan. Pendim 0723/Klaten











