Klaten (01/03/2018) Pelibatan Satuan kewilayahan,khususnya koramil dalam mensukseskan program pemerintah untuk swasembada pangan tentunya bukan tanpa alasan.
Apalagi kalau dilihat dari aspek pertanian TNI sangat tidak mungkin mampu mendampingi petani untuk lebih baik, yang ada kehawatiran intervensi dan kekerasan karena TNI yang kita tahu adalah alat pertahanan dan dia memiliki skil berperang membunuh atau dibunuh, sekarang ikut mengolah pertanian kita bertanya kapan TNI sekolah pertaniannya.
Padahal Babinsa bukan tenaga terampil di bidang pertanian.Seperti yang di lakukan oleh koramil 09/prambanan Pelda Kukuh.Beliau tidak ragu berpanas panasan untuk melaksanakan pendampingan terhadap petani.Tak hanya itu,beliau juga cekatan dalam membantu petani mempersiapakan benih padi(ndaut)untuk segera di tanam.Seperti yang di utarakan Bapak Ngatijo,”Pak kukuh itu suka berkeliling di sawah sawah dan sering menemani petani menggarap sawah”.
“Hari ini pak kukuh membantu saya ndaut,ndautnya pak kukuh cekatan dan cepat”,tambah pak Ngatijo.
Di lapangan, kehadiran Babinsa dalam program pangan akan menjadi motivator dan pendorong bagi petani dan kelompok tani, lebih dari itu, kehadiran Babinsa juga menjadi pemicu serta pemacu bagi para penyuluh dan petugas pertanian di lapangan.
Bahwa kehadiran Babinsa bukan untuk mengambil penyuluh, tetapi lebih ke arah sinergi langkah dan gerak dengan fungsi dan perannya masing-masing guna mendinamisasi pembangunan pertanian di pedesaan. Keter libatan Babinsa TNI AD di bidang ketahanan pangan memang masih terbatas dalam pendampingan untuk meningkatkan produksi Tanaman Padi, Jagung dan Kedelai.
Meski demikian, keterlibatan TNI, dalam pendampingan ketahanan pangan tetap harus disambut positif. Kehadiran Babinsa TNI AD bukan sebagai penyuluh pertanian akan tetapi babinsa TNI AD adalah motivator, fasilitator, dinamisator innovator bagi kelompok tani di lapangan.(Penramil 09/Prambanan)














